Selamat datang

Tak Ada Yang Sia-sia dalam hidup
Menuliskan semua tinta kehidupan dengan indah

Menemukan hal-hal baru untuk membuka pemikiran kita dan menjaga dengan sepenuh hati apa yang telah kita miliki

Senin, 11 April 2011

Pluralisme di JSI


               “Bukan, bukan yang ini,” kata salah seorang mahasiswa JSI dengan logat ambon, ITS khusunya JSI merupakan tempat untuk mencari ilmu bagi sebagian orang yang berasal dari luar Surabaya bahkan bagi mereka yang bertempat tinggal di luar Surabaya sebagai orang-orang terpilih dari daerah mereka masing-masing.
                “ Cukup sulit memang menerima materi kuliah kalo dosennya ngomong jawa tapi ini merupakan keuntungan kita sebagai minoritas, kita dapat belajar bahasa jawa dan budaya orang jawa,”  kata salah seorang mahasiswa JSI dengan logat batak. Memang bukan hal yang mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru sehingga membutuhkan sesuatu  yang ekstra untuk mahasiswa dari berbagai daerah diluar jawa tersebut dapat menyesuaikan diri. Untuk masalah makanan mereka mengaku kalau makanan didaerah Surabaya umumnya kurang nendang untuk masalah bumbu masakan seperti kata salah seorang mahasiswa berasa dari Aceh ini, “Bumbunya kalo disini tu gak terasa mantap ya, kayak dirumahku tu bumbunya mantap gitu,”.
                Tidak hanya melihat dari kacamata daerah tempat asal mereka, tetapi background pendidikan yang telah ditempuh sebelum masuk di JSI ini juga menarik untuk disoroti, dengan sample mahasiswa S1 akan sangat terlihat perbedaan yang ada. Dimulai dari jenjang pendidikan SMA biasa, SMA pondok pesantren, smk dengan jurusan komputer, mahasiswa pindahan dari jurusan lain bahkan sampai lulusan D3 keungan. Dari background yang berbeda tersebut mahasiswa mendapat bekal yang berbeda pula tentang bekal yang mereka bawa untuk menghadapi pertempuran di medan perang JSI ini. Kewalahan dalam menghadapi bahasa pemrograman adalah salah satu masalah utama yang dirasakan mayoritas mahasiswa JSI, “Lawong dulu saya gak pernah tau apa yang disebut bahasa pemrograman, lakok sekarang disuruh mrogram,” kata salah seorang mahasiswa dengan logat jawanya yang kental karena dia memang berasal dari Yogyakarta, tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi mahasiswa yang background pendidikannya adalah SMK jurusan komputer.Untuk tugas masalah perhitungan analisis biaya dan investasi maka tidak diragukan lagi mahasiswa dengan latar belakang D3 keungan akan melahap habis tanpa sisa tugas tersebut. Mereka dapat menyampaikan secara detail melebihi mahasiswa yang berbackground SMA.
                Jika kita melihat dari teropong agama maka kita akan menemukan semua aliran agama bersatu dalam JSI ini, mempunyai kelompok yang berbeda agama sangat mungkin terjadi tetapi hal tersebut lantas tidak menjadikan sebuah jurang pemisah bagi kinerja kelompok yang telah dibentuk, “Saya pernah satu kelompok dengan teman-teman yang mempunyai agama berbeda, waktu itu saya ijin beribadah dan tidak dapat ikut mengerjakan tugas kelompok tetapi mereka dapat memaklumi,” kata salah satu mahasiswa. Sudut pandang agama merupakan salah satu yang paling riskan dikalangan masyarakat tetapi tidak untuk JSI.
                Dari segi umur, mahasiswa JSI akan terlihat sangat berbeda, ini sangat kental dengan adanya angkatan untuk istilah pembeda tahun masuk, tidak jarang juga satu angkatan juga mempunyai beda umur yang berbeda-beda tetapi mereka tidak menjadikan canggung dalam sharing masalah kuliah.

                    Plurarisme dapat dipandang dari sudut pandang yang berbeda dan akan terus berkembang jika kita mencari-cari sumber pembedanya. Mahasiswa akan lebih menghargai perbedaan, meningkatkan kedewasaan dan juga melatih kesabaran. Bagaikan sebuah batu yang ada dihapadan mahasiswa plurarisme dapat menjadi penghalang tetapi juga dapat menjadi sebuah pijakan untuk meningkatkan ilmu yang akan mereka peroleh. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar